Malinau Tourism
Beranda
DestinasiPenginapanPetaEventKonservasi

Direktori

Sanggar SeniDirektori sanggar terpublikasiCagar BudayaSitus cagar budaya terpublikasi

Suku Asli Malinau

Paguyuban Nusantara

Ekonomi Kreatif
BeritaPokdarwisDukungan Pemerintah
Tentang Kami
/
Malinau Tourism
Beranda
DestinasiPenginapanPetaEventKonservasi

Direktori

Sanggar SeniDirektori sanggar terpublikasiCagar BudayaSitus cagar budaya terpublikasi

Suku Asli Malinau

Paguyuban Nusantara

Ekonomi Kreatif
BeritaPokdarwisDukungan Pemerintah
Tentang Kami
/
Malinau Tourism
Beranda
DestinasiPenginapanPetaEventKonservasi

Direktori

Sanggar SeniDirektori sanggar terpublikasiCagar BudayaSitus cagar budaya terpublikasi

Suku Asli Malinau

Paguyuban Nusantara

Ekonomi Kreatif
BeritaPokdarwisDukungan Pemerintah
Tentang Kami
/
Gambar Belum Tersedia
Beranda/Budaya/Cagar Budaya/Makam Panembahan Raja Tua
Cagar Budaya

Makam Panembahan Raja Tua

Makam Panembahan Raja Tua merupakan makam dari Muhammad Ali Hanafiah, salah satu tokoh penting bagi Masyarakat Tidung. Makam ini berukuran tinggi 58 cm, dengan diameter 90 cm. Terdapat 5 makam lainnya yang merupakan keluarga dari Panembahan Raja Tua. Terdapat inskripsi beraksara Arab Melayu di bagian nisan, selain itu semua nisan tersebut ditutupi dengan kain kuning sebagai bentuk suatu hal yang dikeramatkan. Kondisi lingkungan sekitar makam cukup terjaga dengan pagar yang mengelilingi area nisan. Selain itu, dikarenakan secara silsilah memiliki hubungan dengan Panembahan Alamsyah di Sebawang dan Panembahan Raja Pandita, terdapat lembaga yang memelihara secara langsung yaitu Lembaga Kekerabatan Panembahan Sebawang - Sri Baginda Maharaja.

Jenis
Struktur Cagar Budaya
Periode
Kolonial
Lokasi
Mentarang, Mentarang Baru, Kabupaten Malinau
SK Penetapan
ODCB.MLN034
Tentang Situs

Tentang Situs

Makam Panembahan Raja Tua merupakan makam dari Muhammad Ali Hanafiah, salah satu tokoh penting bagi Masyarakat Tidung. Makam ini berukuran tinggi 58 cm, dengan diameter 90 cm. Terdapat 5 makam lainnya yang merupakan keluarga dari Panembahan Raja Tua. Terdapat inskripsi beraksara Arab Melayu di bagian nisan, selain itu semua nisan tersebut ditutupi dengan kain kuning sebagai bentuk suatu hal yang dikeramatkan. Kondisi lingkungan sekitar makam cukup terjaga dengan pagar yang mengelilingi area nisan. Selain itu, dikarenakan secara silsilah memiliki hubungan dengan Panembahan Alamsyah di Sebawang dan Panembahan Raja Pandita, terdapat lembaga yang memelihara secara langsung yaitu Lembaga Kekerabatan Panembahan Sebawang - Sri Baginda Maharaja.

Nilai Sejarah

Muhammad Ali Hanapia adalah putra dari Pangeran Raja Muda yang bernama Abdullah (keturunan bangsawan Berau) dengan istrinya yang bernama Ikes (keturunan dari Dayang Saribanun binti Pangeran Basar asal Tidung Kepatal). Muhammad Ali Hanapia menikah dengan putri kedua dari Panembahan Alimuddin Hasan (Raja Tidung ke-11) yang bernama Aji Ratu. Oleh karena Panembahan Alimuddin Hasan tidak memiliki anak laki-laki, atas mufakat bersama para menteri dan para bangsawan Tidung, maka tahta kerajaan Tidung ia serahkan kepada menantunya yang bernama Muhammad Ali Hanapia dengan gelar Panembahan Raja Tua. Pada masa pemerintahan Panembahan Raja Tua yang berkuasa sebagai Raja Tidung, pusat pemerintahan kerajaan dipindahkan dari Setiyud ke Sawang Pangku (Kuala Bengalun), hal ini tidak lain ialah untuk memperluas dan mempertahankan daerah kekuasaan yang selanjutnya dipindahkan pula ke suatu tempat yang bernama Alung Malinau yang berarti Kuala Malinau (Pulau Sapi sekarang) pada tahun 1189 H. (1776 masehi). Setelah dipindahkannya pusat pemerintahan kerajaan ke Kuala Malinau, tepat pada Tahun 1192 H. (1778 masehi) saudari dari nenek Panembahan Raja Tua yang bernama Miring binti Pangeran Basar wafat dan dimakamkan di sebuah bukit di daerah Pulau Sapi sekarang. Adapun masa pemerintahan Panembahan Raja Tua, semua kepala-kepala suku yang masuk dalam wilayah hukum Kerajaan Tidung dipersatukan dan dianggap saudara. Untuk mempersatukan semua kepala suku ini dibuatlah satu perjanjian adat yang dalam bahasa pedalamannya disebut SEBILA, dengan cara menghisap darah secara bergantian. Dengan adanya perjanjian persaudaraan ini, maka Panembahan Raja Tua menjamin keselamatan suku-suku yang ada dalam wilayah hukumnya sekaligus mengizinkan semua kepala suku untuk mendiami tempatnya masing-masing. Panembahan Raja Tua mempunyai 7 (tujuh) orang anak, di antaranya: 1. Aji Kuning (Ubang) 2. Aji Muhammad Sapu 3. Aji Kaharuddin 4. Aji Rindu 5. Aji Kesuma 6. Aji Taruna (Lamud) 7. Aji Bini (Ikes) Kemudian yang meneruskan kursi kepemimpinan Kerajaan Tidung setelah mendapatkan persetujuan para menteri ialah putra ke-2-nya yang bernama Aji Muhammad Sapu, yang dinobatkan sebagai raja pada tahun 1269 H. (1853 masehi) dengan gelar Panembahan Raja Pandita. Panembahan Raja Tua wafat pada hari Senin, 12 Rajab 1273 H. (09 Maret 1857 masehi), dan dimakamkan di pemakaman Kerajaan Kuala Malinau (di Desa Mentarang Baru sekarang).

Lokasi

Buka di Google Maps
Kembali ke Cagar Budaya

Cagar Budaya Terkait

Lihat Semua Cagar Budaya
Kolonial

Makam Kepala Adat Long Berang

Mentarang Hulu
Kolonial

Meriam Peninggalan Kolonial

Malinau Kota
Kolonial

Bekas Benteng Belanda

Malinau Kota
Pra-Kolonial

Prasasti Mentarang

Mentarang
Warisan Budaya

Jelajahi dan hormati jejak sejarah Malinau.

Temukan cagar budaya lain dan kenali cerita yang membentuk identitas masyarakat Malinau.

Jelajahi Cagar LainnyaLihat Budaya
Malinau Tourism

Portal resmi pariwisata Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara dikelola oleh Dinas Pariwisata & Kebudayaan.

Bagian dari SAGET Malinau

Navigasi

  • Jelajahi
  • Budaya
  • Ekonomi Kreatif
  • Informasi
  • Tentang Kami

Hubungi Kami

Informasi kontak belum tersedia.

© 2026 Pemerintah Kabupaten Malinau. Semua hak dilindungi.

PrivasiKetentuanPeta Situs